Cybernusa.id – INDRAMAYU
Pelayanan di SPBU Eretan menuai kecaman keras. Pengendara dibuat geram setelah mendapati praktik yang dinilai tidak masuk akal: jerigen dilayani lebih dulu, sementara kendaraan yang antre justru dibiarkan mengular tanpa kepastian.
Pemandangan di lapangan memperlihatkan jerigen-jerigen dalam jumlah banyak dengan leluasa “menyerobot” antrean. Petugas SPBU tampak lebih fokus melayani pengisian ke wadah tersebut, seolah-olah pengendara bukan lagi prioritas utama.
“Ini sudah keterlaluan. Kami antre dari tadi, tapi yang pakai jerigen terus yang didahulukan. Ini SPBU buat siapa sebenarnya?” cetus seorang pengendara dengan nada tinggi.
Kondisi ini bukan sekadar soal antrean, tapi mengarah pada dugaan praktik yang lebih serius. Pengisian BBM menggunakan jerigen semestinya dibatasi dan diawasi ketat, bukan justru dilayani secara masif dan tanpa kontrol di depan umum.

Publik pun mulai bertanya: apakah ini bentuk kelalaian, atau ada dugaan permainan oknum di balik maraknya pengisian jerigen tersebut?
Jika benar ada pembiaran, maka ini bukan lagi pelanggaran kecil, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap hak masyarakat sebagai pengguna BBM. SPBU yang seharusnya melayani publik justru terkesan melayani kepentingan tertentu.
Ironisnya, hingga kini belum ada klarifikasi resmi dari pengelola SPBU terkait polemik ini. Sikap diam ini justru memperkeruh suasana dan memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi.
Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas distribusi BBM nasional, Pertamina tidak boleh tinggal diam. Pengawasan harus diperketat, dan jika ditemukan pelanggaran, sanksi tegas wajib dijatuhkan tanpa kompromi.

Masyarakat menuntut keadilan dan transparansi. Jangan sampai SPBU berubah fungsi menjadi “jalur khusus” bagi jerigen, sementara pengendara yang sah justru dipinggirkan.
Jika praktik ini terus dibiarkan, bukan hanya antrean yang semakin kacau, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem distribusi BBM bisa runtuh.







